“Tegakkan Kedaulatan Pangan Nasional dan Jalankan Reforma Agraria”

Tolak Beras Rekayasa Genetik di Asia dan Selamatkan Padi Lokal

Statemen Aksi dan Siaran Pers
WORA (Week of Rice Action) 8 April 2008 di Jakarta, Indonesia
Beras merupakan makanan pokok bagi mayoritas penduduk maupun bangsa-bangsa di Asia. Selain merupakan ciri yang utama dari kawasan ini, beras juga mencerminkan bagaimana bangsa-bangsa di Asia mengembangkan kehidupan menurut keberagaman yang dimilikinya. Beras sebagai bahan makanan pokok memberikan arti dan ciri bagaimana secara sosial, ekonomi, geografis, biologis, juga secara budaya dan religius bangsa-bangsa di Asia berkembang. Warisan keberagaman dan tradisi yang turun-temurun dan yang secara baik terpelihara memiliki relevansinya dalam hal bagaimana bangsa-bangsa di Asia membudidayakan padi sebagai jenis tanaman pangan yang terpenting.

Namun, bersamaan dengan peningkatan penjajahan dari negara-negara kapitalis monopoli, keseluruhan soal tersebut diatas, secara dramatis hancur. Seluruh kekayaan alam dan kearifan maupun  tradisi yang baik dari rakyat dan kaum tani di negeri-negeri jajahan maupun setengah jajahan hancur terdesak oleh keserakahan kapitalis monopoli internasional. Kedaulatan negeri-negeri jajahan dan setengah jajahan terampas, dan mereka memaksa negeri-negeri ini kehilangan kontrol atas pengelolaan sumber daya alam maupun sebagai produsen sumber bahan pangannya sendiri. Rakyat dan negara dengan demikian tidak memiliki kontrol, kebebasan dan pilihan-pilihan yang sesuai dengan tradisi, budaya dan pengetahuan asli dalam mencukupi pangannya sendiri maupun kecukupan dan keamanan kebutuhan akan beras. Pada situasi sekarang ini, akibat ulah korporasi monopoli internasional pada bidang benih dan distribusi maupun pertukaran telah menyebabkan negara-negara agraris kehilangan kedaulatan dan kontrolnya pada usaha memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Dari data yang mampu dihimpun, akibat globalisasi neoliberal/imperialisme telah menorehkan cacatan mengerikan dimana 105 dari 149 negara jajahan dan setengah jajahan maupun negeri bergantung adalah pengimpor pangan bersih. Ini berarti Negara-negara tersebut tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk memproduksi pangannya sendiri.

Bagi Indonesia sendiri, hancurnya kedaulatan pangan nasional dan hilangnya kemampuan negara dan rakyat untuk mencukupi kebutuhan beras nasional telah berlangsung cukup lama. Dari tahun ke tahun, pemerintah semakin gagal dalam memenuhi kebutuhan beras sebagai bahan pangan pokok rakyatnya. Kebijakan untuk selalu melakukan impor beras meski bertentangan dnegan kepentingan kaum tani dan kepentingan rakyat luas, bahkan mendapat tentangan dalam berbagai bentuk aksi protes atas rencana tersebut, selalu saja ditempuh demi memuaskan nafsu mengeruk untung dari para kapitalis monopoli internasional. Bahkan, pada tahun 2007 ini pemerintah melalui Badan Urusan Logistik (Bulog) telah membulatkan tekad melakukan impor beras sebesar 1,5 juta ton. Tekad ini, sungguh merupakan tekad yang nyata-nyata reksioner dan tanpa berperasaan terhadap rakyatnya sendiri dan kepada kaum tani. Dengan kata lain, negara telah nyata-nyata membuktikan dirinya sebagai boneka dari imperialisme dan para tuan tanah besar yang terus melakukan perampokan dan penghancuran massa luas rakyat dan kaum tani. Pemerintahan dari satu rezim ke rezim lainnya, tidak memiliki komitmen yang kuat dalam menata dan membangun sektor pertanian/agraria yang telah mengalami krisis cukup lama dan dalam.

Tentu saja, hilangnya kedaulatan pangan nasional kita pada saat ini, selain disebabkan oleh kebijakan-kebijakan negara yang membuka dan melapangkan liberalisasi perdagangan pada produk pangan, juga diakibatkan oleh berbagai bentuk penyebab krisis agraria lainnya. Salah satu sebab yang dimaksudkan di antaranya adalah intensif dan meluasnya praktek monopoli sumber-sumber agraria (tanah, hutan, bahan tambang, dan perkebunan). Konsentrasi kepemilikan dan penguasaan atas sumber-sumber agraria tersebut ditempuh dengan cara perampasan tanah rakyat (land grabbing) sehingga berdampak pada terkucilnya petani miskin perseorangan dan pertanian secara umum yang mengusahakan tanaman-tanaman pangan. Monopoli yang terjadi keseluruhannya diabdikan dan diorientasikan bagi pemenuhan tanaman-tanaman komoditi pasar internasional. Praktek inilah yang termanifestasikan dalam usaha-usaha pertanian skala besar, seperti perkebunan kelapa sawit, jarak, teh, tebu, karet, dan jenis tanaman komoditi lainnya. Begitu juga alih fungsi lahan dari lahan pertanian ke lahan non pertanian turut menyumbang permasalahan-permasalahan tersebut di atas.

Dampak lebih lanjut, hancur dan hilangnya kedaulatan pangan di sejumlah negeri agraris juga telah menyebabkan meningkatnya dan meluasnya penduduk dan rakyat miskin yang menderita kelaparan. Sebagai gambaran, dapat disebutkan diantaranya adalah India merupakan negeri dengan jumlah penderita kelaparan tertinggi di dunia, disusul oleh China. Dimana 60% dari total penderita kelaparan di seluruh dunia berada di Asia dan Pasifik, diikuti oleh negeri-negeri Afrika Sub Sahara sebesar 24%, serta Amerika Latin dan Karibia 6%. Bahkan, setiap tahun orang yang menderita kelaparan bertambah 5,4 juta. Juga setiap tahunnya 36 juta rakyat mati karena kelaparan dan gizi buruk, baik secara langsung maupun tidak langsung. Yang jauh lebih memerikan hati, menurut data Food and Agriculture Organization (FAO) pada tahun 1996 terdapat 854 juta dari 5,67 milyar penduduk dunia yang menderita kurang pangan, diantaranya 200 juta balita menderita kurang gizi, terutama energi dan protein. Selain itu, laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga mencatat bahwa 3 – 5 ribu orang mati setiap hari akibat kelaparan.

Di samping meningkatnya jumlah rakyat yang menderita kelaparan, jumlah rakyat yang mengalami maltrunisi atau kekurangan gizi juga menunjukkan peningkatan yang sangat berarti. Di Indonesia sendiri berdasarkan data yang dipublikasikan oleh UNICEF jumlah balita penderita gizi buruk pada tahun 2005 sekitar 1,8 juta, meningkat menjadi 2,3 juta pada tahun 2006. Dari angka kematian bayi yang 37 per 1.000 kelahiran setengahnya akibat dari kurang gizi. Untuk wanita usia subur, dari 118 juta jiwa sebanyak 11,5 juta jiwa mengalami anemia gizi. Kurang energi kronis juga dialami 30 juta orang dari kelompok produktif. Ini sungguh petaka kemanusiaan yang paling menyedihkan dan memalukan pada saat ini. Dan tentu saja sangat mengancam kesehatan secara fisik dan spirituil generasi bangsa mendatang.

Permasalahan tersebut di atas hanyalah sebagian kecil dari dampak atas hilangnya kedaulatan pangan nasional suatu negeri dan tentu saja kehadiran korporasi monopoli internasional di bidang benih padi dan distribusi beras memberikan andil yang besar atas hilangnya kedaulatan pangan nasional. Namun sesungguhnya bila kita tengok lebih jauh, korporasi monopoli internasional tersebut juga telah menghancurkan seluruh pengetahuan bertani yang terbukti ramah terhadap lingkungan dan sesuai dengan budaya asli rakyat maupun sesuai dengan syarat-syarat kelestarian keanekaragaman hayati. Keberadaan lembaga-lembaga riset dan penelitian baik di dalam lingkungan universitas/perguruan tinggi serta lembaga-lembaga sejenis merupakan sponsor utama hilangnya benih-benih padi asli. Lembaga internasional seperti   IRRI yang secara resmi merupakan lembaga yang sengaja dibentuk oleh Yayasan Rockefeller dan Yayasan Ford (kedua Yayasan dari Amerika ini juga banyak mendanai lembaga-lembaga swadaya masyarakat di Indonesia) pada tahun 1959 di Filipina, menyumbang besar pada hancurnya pengetahuan bertani yang dimaksud termasuk merampas serta menghilangkan benih-benih padi asli dari rakyat. Keberadaan lembaga ini terbukti telah menghancurkan dan merampas benih-benih padi asli dari sejumlah negara dan dengan demikian keberadaannya telah menopang industri monopoli benih dan para spekulan besar internasional pada bahan pangan beras.

Oleh karenanya keberadaan lembaga-lembaga semacam ini harus ditentang kehadirannya dalam segala bentuk aktivitasnya, baik dalam bentuk riset/penelitian, uji coba serta pengujian di lapangan padi rekayasa genetik.

Akhirnya, dapat kita simpulkan bahwa kehadiran beras rekayasa genetik yang menyerbu Asia saat ini dapat dikatakan sebagai bentuk kontrol korporasi monopoli internasional atas benih dan beras di bidang pertanian. Dengan demikian, kehadiran beras rekayasa genetik (GE Rice) akan semakin memperparah ketimpangan dalam penguasaan dan pemilikan tanah. Bahkan, semenjak kehadirannya telah terbukti menghancurkan kedaulatan pangan nasional, merusak, dan mengancam kesehatan dan nilai-nilai kemanusiaan serta meminggirkan peranan perempuan dari sektor pertanian untuk berpartisipasi dalam proses produksi.

Aksi massa tanggal 8 April 2008 di Jakarta, Indonesia yang diselenggarakan merupakan kegiatan puncak dari rangkaian kegiatan dengan tajuk aksi Week Of Rice Action (WORA) atau “Sepekan Aksi Anti Beras Rekayasa Genetik/No to GE Rice in Asia”. Di mana pada agenda-agenda terdahulu, berbagai kegiatan kampanye dalam bentuk yang lainnya telah diselenggarakan oleh para partisipan di berbagai  negara di Asia. Selain itu, aksi sepekan menentang beras rekayasa genetik pada tahun ini, sesungguhnya juga merupakan kelanjutan dari kegiatan kampanye massa serupa pada tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 2007 yang bertujuan untuk mengangkat dan meningkatkan kesadaran akan ancaman beras rekayasa genetik.

 
Tuntutan Aksi WORA 8 April 2008

Berpijak pada kenyataan-kenyataan di atas, maka Tuntutan Aksi WORA 8 April 2008 adalah sebagai berikut:
1. Tegakkan Kedaulatan Pangan Nasional dan Jalankan Reforma Agraria yang Sejati.
2. Tolak beras rekayasa genetik di Asia dan selamatkan padi lokal.
3. Turunkan harga bahan-bahan pokok rakyat , seperti minyak tanah, minyak goreng, dan beras.
4. Tanah untuk rakyat, kenaikan upah untuk buruh, dan pekerja pertanian di pedesaan.
5. Lapangan pekerjaan dan pendidikan murah bagi pemuda dan mahasiswa, emansipasi bagi perempuan dan kebebasan berserikat dan berkumpul bagi rakyat.

Jakarta, 8 April 2008

AGRA (Aliansi Gerakan Reforma Agraria)
APC (Asian Peasant Coalition)
PAN-AP (Pesticide Action Network Asia and the Pacific)
KRKP (Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan)
FMN (Front Mahasiswa Nasional)
GSBI (Gabungan Serikat Buruh Independen)

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: